Inspiration For Men

Celana Dalam Pria : Beda Negara, Beda Persepsi

Layaknya Amerika dan Inggris yang memiliki aksen berbeda dalam bertutur kata, terdapat pula perbedaan “aksen” terkait celana dalam pria di Eropa dan Amerika. Perbedaan ini mengarah pada bagaimana masyarakat, khususnya para pria, di kedua belahan dunia memberikan nuansa rasa melalui persepsi kepada produk yang telah ada sejak zaman sebelum Masehi ini.

Di Amerika, celana dalam bukanlah benda yang terlalu senang diumbar ke publik. Tidak heran, celana dalam pria di Amerika umumnya polos dan tidak imajinatif. Benda ini dengan mudah ditemukan di store seperti Walmart, Target atau Nordstrom. Jarang terlihat celana dalam dipasangkan dengan mannequin yang menonjol pada bagian kemaluan. Celana dalam biasanya dijual dalam kemasan kotak sehingga tidak memungkinkan pria untuk mencoba merasakan tekstur dan bahannya.

Para pria Amerika yang terlalu memperhatikan model, desain, dan tekstur celana dalam bisa dianggap obsesif terhadap diri sendiri, tidak maskulin, dan cenderung tidak straight. Hal ini cukup bisa dimaklumi karena akar masyarakat Amerika berawal dari upaya penemuan New England, yang notabene didominasi oleh masyarakt berideologi puritan yang sangat memegang teguh nilai-nilai religius. Perhatian berlebih terhadap celana dalam diasumsikan sebagai “liar” dalam seks dan pikiran yang tidak murni (impure thought). Dan lucunya, hasil riset USA Today menyimpulkan bahwa 40% pria Amerika tidak membeli sendiri celana dalamnya.

Di Eropa, khususnya di Perancis, Belanda, dan Jerman, para pria terbiasa dengan potret maskulinitas di muka publik. Alih-alih dianggap menyimpang, justru para pria yang memuja keindahan tubuh dan detail dalam memilih celana dalam dianggap romantis. Toko yang khusus menjual celana dalam pria bertebaran di mana-mana di pusat kota. Celana dalam diiklankan dengan model pria berperut six-pack dan dikenakan pula oleh mannequin yang dibuat sedemikian rupa seperti tubuh pria yang berotot dan menyembul di bagian kemaluan. Sangat mungkin untuk calon pembeli merasakan tekstur dan bahan yang digunakan.

Ternyata sebuah produk bukanlah bentuk fisiknya semata, namun pengetahuan mengenai karakteristik masyarakat yang membelinya. Well, bagaimana pandangan Anda mengenai celana dalam?