HICOOP INTERNATIONAL adalah salah satu label pakaian dalam pria andalan PT. Vista Mandiri Gemilang untuk pasar lokal Indonesia yang dikenal sebagai pakaian dalam pria yang diproduksi dengan standar kualitas yang tinggi.

Saat ini HICOOP INTERNATIONAL sudah terbesar di pasar domestik dan dapat diperoleh di toko-toko fashion, departement store, supermarket,  mini market dan gerai-gerai retail di seluruh Indonesia,  PT. Vista Mandiri Gemilang sedang menjajaki untuk mengembangkan pemasaran produknya baik dengan label Hicoop maupun Private Label klien di pasar internasional.

Pabrik kami memproduksi berbagai jenis bahan dan pakaian dalam, sebagai berikut :

  1. Bahan Katun
  2. Kain Rajut
  3. Celana Dalam
  4. Boxer
  5. Pakaian Tidur
  6. Kaos Singlet
  7. Kaos Oblong
  8. Kaos Polo
  9. Pakaian Dalam Wanita
  10. Pakaian Dalam Anak-Anak
  11. Pakaian Bayi

Celana Dalam Pria: Sejarah dan Perkembangannya

Tanggal Publish : 29 April 2014

Sejak penggunaan cawat sekitar 7.000 tahun silam, sejarah pakaian dalam pria telah melewati jalan yang cukup panjang. Ini kilas baliknya.

Dengan berbagai bentuk dan jenisnya, celana dalam yang kita kenakan sekarang sudah melewati berbagai perkembangan zaman dengan latar belakang sosial-budaya yang beragam. Tidak hanya dikenal di kalangan masyarakat modern, namun celana dalam rupanya sudah ada di era sebelum Masehi. Bahkan, celana dalam pernah menjadi penanda status sosial di Abad Pertengahan. Dan tanpa disangka, pada Perang Dunia II, celana dalam menjadi salah satu komoditi yang diperebutkan di kalangan prajurit.

Perbedaan peruntukan, skala produksi, model, dan bahan yang digunakan menandai “kejayaan” celana dalam di tiap-tiap masanya. Untuk mengetahui aspek historis dan demografis dari celana dalam yang kini Anda kenakan, mari bersama-sama kita ikuti pemaparan berikut.

Zaman Sebelum Masehi

Bentuknya yang sederhana membuat para sejarawan sepakat bahwa cawat adalah bentuk pertama dari celana dalam. Meskipun terkadang digunakan sebagai pakaian luar di tempat-tempat dengan cuaca hangat, cawat yang telah ada sejak kira-kira 7.000 tahun silam berfungsi sebagai penghangat tubuh dari udara dingin. Pakaian tradisional Hawai (Malo) dan pakaian tradisional Jepang (Fundoshi) terinspirasi dari bentuk cawat ini.

Cawat
Penggunaan cawat pada jaman sebelum masehi

Para pria di era kejayaan Yunani dan kekaisaran Roma juga diyakini mengenakan celana dalam. Bahan wol menjadi yang paling umum, sementara kain sutra menandakan “kelas atas” bagi penggunanya. Menyusul kemudian, salah satu tokoh besar yang mempopulerkan celana dalam adalah Raja Mesir bernama Tutankhamun (1341—1323 SM), yang dikubur dengan mengenakan beberapa celana dalam berbahan linen.

Abad Pertengahan

Pada masa ini, celana dalam bertransformasi menjadi lebih longgar daripada era sebelumnya. Cawat digantikan dengan celana dalam yang panjangnya kira-kira sampai setengah betis. Jika dulu celana dalam dikenakan dengan cara diikat dan dilingkarkan di sekujur pinggang, pada Abad Pertengahan cara memakai celana dalam mengharuskan pria untuk melangkahkan kakinya masuk; sama seperti memakai celana pada umumnya.

Pria-pria kaya umumnya mengenakan pakaian dalam yang lebih panjang (sampai bagian ujung betis) dan terbuat dari logam. Ini menunjukkan sifat ksatria sebagaimana para prajurit perang mengenakannya. Memasuki abad ke-15, celana dalam berkembang menjadi semakin tebal, pendek, dan dilengkapi dengan kancing di depan bagian kemaluan sehingga pria tidak perlu repot-repot membuka celananya saat hendak buang air kecil.

Perkembangan celana dalam yang menjadi semakin tebal ini menurut perkiraan disebabkan oleh penyakit sifilis yang diderita oleh Raja Henry VIII dari Inggris. Karena penyakit ini, maka kemaluan Raja Henry VIII harus diperban, dan jadilah ia membutuhkan celana dalam yang bisa menutupi “rahasia” ini. Pada masa ini, celana dalam tidak identik dengan pakaian “dalaman” karena seringkali berfungsi sebagai celana utama di bagian luar.

Zaman Revolusi Industri

Penemuan mesin pemintal oleh James Hargreaves pada pertengahan abad ke-18 membuat pakaian dengan bahan dasar katun bisa diproduksi secara massal. Pada masa inilah, untuk pertama kalinya orang membeli celana dalam di toko dan berhenti membuatnya sendiri.

Perkembangan berikutnya di abad ke-19 ditandai dengan inovasi baru di Utica, New York. Celana dalam diproduksi dengan ukuran panjang seperti celana panjang dan dilengkapi dengan kancing pada bagian kemaluan. Celana dalam seperti ini dikenal dengan nama “Long John”, terinspirasi dari nama petinju Amerika bernama John L. Sullivan, yang mengenakan celana dalam seperti ini di atas ring. Celana dalam ketat ini juga seringkali bersatu dengan baju ketat berlengan panjang.

Long John
Long John

Pada tahun 1874, C.F Bennett membuat celana dalam (dikenal dengan nama jockstrap) khusus untuk pengendara sepeda di Boston, Massachusetts, yang terkenal karena jalannya yang berbatu.

Tahun 1900—Sekarang

Di awal abad ke-20, celana dalam berkembang menjadi industri yang kompetitif seiring dengan banyaknya produsen. Desain mulai dirasa penting pada masa ini. Di akhir tahun 1910an, Chalmers Knitting Company mendobrak desain pakaian dalam menjadi two pieces. Pakaian dalam yang menutupi seluruh tubuh seperti pada “Long John” dipisahkan menjadi dua bagian. Desain two pieces ini mendapatkan tempat sampai akhir tahun 1930an, dan baru merosot pada tahun-tahun berikutnya.

Era boxer dimulai dengan inovasi seorang pengusaha imigran bernama Benjamin Joseph Clark yang mendirikan perusahaan Bossier. Langkah Clark memproduksi boxer ini dipercaya sebagai titik balik modernisme dalam model celana dalam pria. Sementara itu, era brief dimulai pada tanggal 19 Januari 1935 ketika perusahaan bernama Coopers Inc., berdasarkan desain dari Arthur Kneibler, menjualnya untuk pertama kali di Chicago.

Di masa Perang Dunia I, para prajurit mengenakan celana pendek dengan kancing sebagai pakaian dalam. Celana ini bisa dikencangkan dan dilonggarkan sesuai keinginan. Setelah itu, celana dalam tanpa kancing dengan pinggang elastis mendapatkan tempatnya. Di sinilah nama “Boxer” populer karena petinju juga akhirnya menggunakan celana pendek karet tanpa kancing di bagian depan.

Di masa Perang Dunia II, celana dalam yang semula elastis di bagian pinggang berubah haluan lagi menjadi celana dalam dengan kancing sebagai pengerat. Hal ini terjadi karena karet dan logam menjadi komoditas yang diperebutkan dalam perang. Akibatnya, boxer menjadi sumber daya yang terbatas dan tentunya diperebutkan.

Di masa awal tahun 1970an, celana dalam mulai menjadi tren fashion. Celana dalam menjadi kian identik dengan sex appeal. Perkembangan kaum gay di Amerika Serikat juga membuat celana dalam semakin kaya dari segi model. Jenis celana dalam thong yang awalnya populer di kalangan wanita diadopsi pula untuk celana dalam pria. Untuk jenis jockey brief, adalah seniman Andy Warhol yang menjadi salah satu simbolnya. Saking sukanya pada jockey brief, ia menggambar logo “$” dengan warna merah pada salah satu kepunyaannya.

Di Inggris, setidaknya sampai tahun 1970an, brief lebih populer daripada boxer. Tetapi, ketika musisi Nick Kamen tampil di iklan Levi’s untuk produk 501 jeans, ia mengenakan boxer saat harus beradegan menurunkan celananya, dan sejak saat itu, boxer mulai digandrungi.

Sementara itu, boxer brief menjadi populer karena adanya gaya berpakaian yang dikenal dengan istilah “sagging”. “Sagging” merupakan gaya penyanyi hip hop, yang ditandai dengan bagian pinggang celana panjang yang diturunkan sampai bokong ke bawah sehingga memperlihatkan sebagian besar celana dalam.

Artikel Top
Artikel Terbaru
Collection